Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Batang Tarang

Menerima dan menghargai diri sendiri orang lain, keunikan dan keanekaragaman. Bersedia saling meminta maaf dan mengampuni dengan tulus

Paroki Batang Tarang

Menghormati hidup, harkat, martabat dan hak-hak azasi manusia dengan memperlakukan orang lain seperti diri sendiri

Hadirkan Kedamaian

Berjiwa besar, terbuka, tegas, damai dan bersikap dewasa menghadapi masalah-masalah besar. Hal-hal sepele tak sepantasnya dipermasalahkan

Mari membangun bersama

Mendengarkan orang lain dengan hati guna menjauhkan diri dari prasangka buruk dan menghormati nama baik orang lain

Asrama Paroki Batang Tarang

Berfikir, berbicara dan bertindak sesuai dengan hati nurani yang benar sambil berpegang teguh pada nilai-nilai kebaikan, kebenaran, keadilan, kejujuran, kesetiaan dan tanggungjawab

Rabu, 20 Agustus 2014

Gereja Batang Tarang Sekarang

Paroki “Hati Kudus Tuhan” Yesus Batang Tarang merupakan salah satu dari 23 Paroki yang berada di wialayah Keuskupan Sanggau. Dalam tata wilayah pemerintahan merupakan bagian dari Kabupaten Sanggau. Paroki ini merupakan Paroki tertua. Sejak tahun 1950 an sampai  tahun 2000  Paroki Batang Tarang melingkupi wilayah Tayan Hulu  dan  Tayan Hilir, bahkan sampai Jelimpo, wilayah Paroki Ngabang, Keuskupan Pontianak, Kabupaten  Landak. Tapi sekarang  Paroki Sosok dan Tayan sudah menjadi Paroki  sendiri. Sedangkan wilayah Paroki Batang Tarang tingggal hanya wilayah yang berada di wlayah Kecamatan Balai-Batang Tarang. Jumlah kampung/Dusun dan kring sebanyak 90. Dari sekian banyak kampung/dusun dan Kring yang sudah memiliki Gereja/Kapel ada 35. Di Wilayah Paroki Batang Tarang tidak semua kampung harus memiliki rumah ibadat, karena banyak kampung letaknya berdekatan dan jumlah Kepala Keluarganya juga relatif sedikit, kampung yang seperti ini pada umunya  bergabung dengan kampung basis, yang sudah memiliki rumah ibadat permanen.  Jumlah umat katolik terbabtis sampai akhir tahun 2013 adalah sebanyak 17.350 jiwa.

Gereja Pusat Paroki Hati Kudus Batang Tarang dibangun pada tahun 1954 dan diresmikan tahun 1955, berukuran 12 x 45 M. Struktur bangunan ini diperkirakan 75% terbuat dari kayu, kayu belian dan kayu kelas dua. Kondisi bangunan sekarang sudah rusak/keropos dan tidak layak dipakai, karena banyak kerangka kayu dan tiang sudah lapuk. Bangunan ini juga sudah tidak bisa menampung jumlah umat yang ikut beribadat terutama bila Hari Raya Besar, seperti Natal dan Paskah. Untuk menanggulanginya, didirikan tenda di samping kiri kanan dan bahkan di depan gereja. Itupun kadang masih banyak juga umat yang terpaksa masih harus berdiri.


Gereja pusat Paroki Batang Tarang yang telah digunakan sejak tahun 1955 direncanakan mulai tahun 2015 akan dibongkar dan dibangun baru. Selain karena fondasi dasar yang sudah lapuk, juga mengingat letak Kompleks Paroki ini yang berada di jalur sutera/poros internasional (Negara Malaysia, bagian Sarawak dan Sabah serta Negara Brunei), jalur penghubung antar Propinsi (Kal-Bar dan Kalteng, dll), antar Kabupaten dan Kecamatan. Mengingat letak yang sangat strategis ini, maka, sudah pantaslah dibangun sebuah gereja yang representatif, sesuai dengan perkembangan  dan pertumbuhan atau kebutuhan umat.


Selasa, 19 Agustus 2014

Sejarah Hati Kudus Tuhan Yesus



Clauda Alacoquie dan Philiberte Lamyn menamakan anak kelimat dari tujuh anak mereka, Margareta pada hari kelahirannya, 22 Juli 1647. Margaret yang dilahirkan di Lauthecourt, Perancis, nyaris tidak mengenal ayahnya karena dia meninggal karena pneumonia ketika Margaret berusia delapan tahun. Tidak lama setelah ayahnya wafat, Margaret dikirim ke sekolah asuhan biara dimana di adalah murid yang unggul sampai ketika berusia sebelas tahun dia menderita demam rematik dan harus menghabiskan empat tahun selanjutnya berbaring di ranjang.

Sekembalinya ke rumah keluarganya, Margaret menemukan bahwa keluarganya berada dalam kondisi keuangan yang sulit sejak ayahnya meninggal. Para kerabat Claude sekarang menguasai rumahnya dan memperlakukan Philiberte dan anak-anaknya seperti pembantu rumah tangga. Situasi yang menyedihkan ini berlangsung terus hingga anak tertua Philiberte menginjak usia dewasa di mata hukum dan kontrol harta benda keluarga kembali jatuh ke tangan keluarga Philiberte.

Margaret punya kecintaan yang besar terhadap Yesus sepanjang masa kecilnya. Cintanya yang kuat kepada Yesus yang hadir di Sakramen Mahakudus, membawanya pada usia dua puluh dua tahun untuk memasuki komunitas biarawati yang didirikan oleh St.Franciscus de Sales, yang disebut Tarekat Kunjungan di Paray-le-Monial. Komunitas ini didirikan atas dasar prinsip kerendahan hati dan tidak mementingkan diri sendiri, yang mana pengalaman-pengalaman Margaret dibawah perlakuan kerabat-kerabatnya telah mempersiapkan dirinya dengan baik. Setelah mengucapkan profesinya, dia diberi nama Maria, yang ditambahkan kepada nama aslinya Margaret.

Pada tanggal 27 Desember 1673, hari Pesta St.Yohanes Penginjil, Margaret Maria mendapat suatu pengalaman unik ketika sedang berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus. Dia merasa seolah tidak lagi sebagai sosok mahluk yang terpisah. Ditengah pengalaman ini dia merasa seolah Yesus memintanya untuk mengambil posisi sebagai murid yang dikasihi pada saat perjamuan terakhir. Dia membayangkan meletakan kepalanya di dada Yesus sehingga dia dapat mendengar detak jantung-Nya dan mengetahui betapa besar cinta Yesus kepada umat manusia. Yesus bercerita kepada Margaret Maria kesedihanNya atas ketidak-pedulian orang-orang atas kasih-Nya.

Biarawati atasannya tidak menanggapi pengalaman doa Margaret Maria secara serius. Tetapi ketika Margaret bersikeras atas validitas pengalaman-2 tersebut, atasannya tersebut menunjuk sejumlah teolog untuk mendengarkan kisah pengalaman Margaret. Mereka berkesimpulan bahwa Margaret menderita delusi. Margaret menyimpan penderitaan ini di dalam hatinya hingga romo Claude de La Colombiere, seorang Yesuit, dipilih sebagai pembimbing spiritualnya. Barulah dia menemukan seseorang yang percaya bahwa pengalamannya betul-betul terjadi.

Margaret Maria terus mengalami penglihatan-penglihatan Yesus. Dia menunjukan jantung-hatinya, yang ditembusi oleh lembing sewaktu peristiwa penyaliban, kepada Margaret dan mengatakan bahwa hati-Nya itu melambangkan kasih-Nya. Hati-Nya itu menyala-nyala oleh kasih, dan Tuhan meminta Margaret Maria untuk memberitakan ini ke seluruh dunia.

Yesus mengatakan kepadanya bahwa Dia menginginkan suatu pesta gereja yang merayakan kasih-Nya pada hari Jumat setelah Pesta Agung Corpus Christi (Pesta Tubuh dan Darah Kristus). Dia juga memberitahukan permintaan-Nya untuk suatu devosi khusus para hari Jumat pertama setiap bulannya untuk menerima Komuni Kudus untuk membayar sikap tidak berterima kasih manusia. Margaret Maria merelay informasi ini kepada pembimbing spiritualnya, romo de La Colimbiere, yang paling bertanggung jawab atas penyebaran devosi ini. Margaret Maria wafat pada tanggal 17 Oktober 1690. Setelah penelitian yang sangat seksama atas hidupnya dan penglihatan-penglihatan yang dialaminya, Margaret Maria dibeatifikasi di tahun 1864 dan dikanonisasi pada tahun 1920.

Devosi jaman modern terhadap Hati Kudus Yesus menyebar luas dari Paray-le-Monial tahun 1907 oleh romo Mateo Crawley-Boevey, SSCC. Gerakan ini mendorong orang-orang untuk mentahtakan lukisan gambar Hati Kudus di rumah-rumah mereka, dan untuk mengkonsekrasikan diri mereka kepada kasih Yesus yang diberikan kepada kita semua, dan untuk menghadiri Misa dan menerima Komuni Suci selama sembilan Jumat Pertama berturut-turut seperti diinstruksikan Yesus kepada St.Margaret Maria Alacoque. Yesus menjanjikan bahwa siapa yang melakukannya akan diberkati dengan rahmat ketekunan terakhir dan tidak akan meninggal tanpa sempat menerima Sakramen terakhir Gereja (sakramen-sakramen terakhir, sebetulnya adalah sejumlah sakrament yang meliputi perayaan ibadah rekonsiliasi, Viaticum [Komuni Suci bagi "perjalanan"], dan ibadah pengurapan orang sakit.)

Manusia tidak dinilai dari kepandaian otaknya saja, tetapi juga dari hatinya. Kalau hati manusia tidak baik, maka kecerdasan otak malah dapat menjadi suatu malapetaka bagi sesama manusia. Kata “Hati” sering kita pergunakan dalam pergaulan sehari-hari. Orang yang takut kita sebut kecil hati. Kekasih disebut jantung hati. Orang yang kecewa disebut kecut hati. Orang yang berani disebut besar hati.
Seorang gadis jatuh hati kepada seorang pemuda karena ia baik hati. Segala macam perasaan yang timbul, baik itu perasaan yang baik ataupun yang jahat, selalu dikaitkan dengan hati. Maka dari itu orang sering disebut murah hati, lapang hati, sakit hati, patah hati, dan lain-lain.

Dalam Kitab Suci juga sering ada pembicaraan tentang hati, seperti dalam kitab Mazmur 7:10, Mazmur 24:4-5, Yer 17:9, 2Raj 8:39, Mat 5:28, Mrk 7:21. Kita harus meyakini bahwa setiap manusia tidak hanya mempunyai otak saja, tetapi juga mempunyai hati supaya cinta dapat memahami maksud dari kebaktian kepada Hati Kudus Yesus.

Yesus telah menjadi manusia. Maka Dia juga mempunyai perasan dan emosi yang sama seperti kita semua. Kita tidak hanya puas dengan menyembah-Nya sebagai Tuhan atau hanya dengan mempelajari ajaran serta rahmat-Nya, kita juga tidak puas hanya dengan mengikuti jejak serta teladan-Nya saja. Kita ingin mengenal-Nya sebagai manusia secara lebih mendalam.
Cara untuk mengenal batin Yesus antara lain dengan membaca Injil. Di sana kita dapat melihat Yesus mempunyai emosi-emosi dapat marah, dapat bersedih,  bersimpati, terharu, bahkan sampai menangis.
Sebagai manusia, Yesus tidak mencoba menyembunyikan perasaan-Nya. Yang mendorong Yesus untuk melakukan tindakan adalah perasaan hati-Nya, Hati Yeus. Kita juga mohon agar Tuhan menganugerahi kepada kita “hati yang baru dan roh yang baru”. Roh Allah menguduskan hati kita, sehingga dapat menjadi seperti Hati Yesus, yang berdebar seirama dengan Hati Yesus.

Gereja juga mempunyai hati. Hal ini mau mengatakan bahwa Gereja bukan merupakan suatu organisasi yang tak berjiwa. Gereja mempunyai hati, karena Gereja terdiri atas manusia yang mempunyai hati. Terlebih lagi karena Gereja merupakan Tubuh Kristus. Tubuh hanya dapat hidup jika ada hati yang berdebar-debar.

Kepentingan Gereja sama dengan kepentingan Kristus sendiri dan juga kepentingan kita semua. Kegembiraan dan keprihatinan Gereja tak lain daripada kegembiraan dan keprihatinan Kristus dan kita. Doa juga tak lain daripada doa Kristus dan doa kita.

1.Menerima dan  menghargai diri sendiri orang lain, keunikan dan keanekaragaman. Bersedia saling meminta maaf dan mengampuni dengan tulus.

2.Berfikir, berbicara dan bertindak sesuai dengan hati nurani yang benar sambil berpegang teguh pada nilai-nilai kebaikan, kebenaran, keadilan, kejujuran, kesetiaan dan tanggungjawab.

3.Menghormati hidup, harkat, martabat dan hak-hak azasi manusia dengan memperlakukan orang lain seperti diri sendiri.

4.Memperhatikan dan bermurah hati terhadap semua orang, khususnya kaum kecil, lemah dan terdiskriminasi. Sapaan, senyuman, pertolongan dan kerjasama yang jujur dapat mempererat persaudaraan.


5.Berjiwa besar, terbuka, tegas, damai dan bersikap dewasa menghadapi masalah-masalah besar. Hal-hal sepele tak sepantasnya dipermasalahkan.

6.Menjauhkan diri dari segala yang berbau kekerasan, diskriminasi, manipulasi, fanatisme dan segala yang menghalangi persaudaraan, seperti: sikap yang menganggap diri yang paling benar, paling berjasa, tertutup, mudah tersinggung, suka mencela, mengeluh dan mencari kambing hitam.

7.Mendengarkan orang lain dengan hati guna menjauhkan diri dari prasangka buruk dan menghormati nama baik orang lain.

Senin, 18 Agustus 2014

Sejarah Paroki Batang Tarang


Pada tahun 1950 Pastor Diomedes OFMCap mulai berkarya di Batang Tarang. P.Diomedes semula ditampung di rumah Demang Linggi (Pejabat Pemerintahan). Dalam tugasnya P.Diomedes dibantu oleh seorang guru agama katolik, pak Orang dari Lintang. Dari rumah pak Demang Linggi ini lah semua aktivitas dilakukan, sebagai rumah tinggal dan juga persinggahan. Pada waktu itu P.Diomedes harus berkeliling masuk kampung ke kampung yang berada di Tayan Hilir, Batnag Tarang sendiri sampai ke Tayan Hulu (Sosok). Tahun 1951 Bapak Andreas Nyurai  secara khusus membantu di Stasi  Batang Tarang.

Tidak lama setelah mulai berkarya dan mulai berkeliling ke kampung-kampung rencana mendirikan gereja  dan Pastoran akhirnya diutarkan P.Diomedes. Semula ada rencana di kampung Beruak atau Senyabang. Namun karena ada yang tidak menerima maka selanjutnya P.Diomedes meminta lokasi milik Bapak Adis di kampung Beruwai untuk mendirikan gereja dan pastoran. Setelah disetujui maka P.Diomedes meminta ijin dari Pak Mangku Japar dan Pak Okay sebagai pemuka masyarakat. Usulan tersebut akhirnya diterima dengan baik.

Pekerjaan pertama adalah memgangun bangsal dan pastoran untuk menginap, sembahyang dan belajar agama. Selain itu P.Diomedes juga membangun sekolah-sekolah di Palai, Sei Borok (Kec.Balai Batang Tarang), di Mandong dan Kedondong (Kecamatan Tayan Hulu/Sosok). Setelah dari sekolah-sekolah tersebut anak-anak disekolahkan ke Nyarumkop, Pusat Damai dan Sanggau (Nyandang).
Tahun 1954/1955 P.Arsenius yang menggantikan P.Diomedes mendirikan gedung gereja yang dikerjakan oleh Br.Cosmas (Pertukangan Pontianak). Bulan Mei 1955 gereja Batang Tarang diberkati oleh Bapak Uskup Tarsisius Van Valenberg, OFMCap dihadiri oleh umat Katolik dan pejabat pemerintah.

Paroki Batang Tarang didirikan pada tanggal 31 Desember 1967 dengan nama pelindung Hati Kudus Tuhan Yesus. Pastor Paroki pertama adalah P.Arsenius OFMCap, Dan dipusatkan di Balai Batang Tarang. Sekarang Masuk dalam dusun Beruwei, Desa Kebadu, Kecamatan Balai, Kabupaten Sanggau. Semula wilayah Paroki ini meliputi seluruh wilayah Kecamatan Balai, Kecamatan Tayan Hilir dan Kecamatan Tayan Hulu (Sosok). Dalam perjalanan waktu Paroki Batang Tarang mengalami dua kali pemekaran yaitu, Paroki Sosok (1990) dan Paroki Tayan (1994). Praktis setelah dimekarkan  wilayah Paroki Batang Tarang hanya meliputi seluruh wilayah Kecamatan Balai saja. Sejak tahun 1994 pelayanan di Paroki Batang Tarang diserahkan ke Imam Diosesan. Imam diosesan yang pernah berugas di Paroki ini adalah P.Dionisius Meligun, P.Albertus Ajung, P.Yohanes Bartolomeus, P.Bunut Setiawan, P.Lorensius Watanama, P.Fidelis, P.John Edi, P.Edmundus, Pr, P.Sumardi, P. P.Agustinus Rian, P.Hernimus Latu Maing. Dan  sampai tahun 2012 imam yang berkarya di Paroki Batang Tarang adalah P.Edmundus, P.Suarman dan P.Ferry.
Selain itu Paroki Batang Tarang juga dibantu oleh Komunitas suster dari KFS Sambas, yang berkarya di bidang pendidikan dan asrama serta membantu pelayanan harian dan Minggu di gereja maupun di kring-kring/kampung.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More